Bunda, usia 0-12 bulan menjadi salah satu fase penting dalam tumbuh kembang Si Kecil. Pada periode ini, bayi mulai mengenal tubuh dan lingkungan melalui berbagai gerakan serta pengalaman baru.
Mulai dari berguling, merangkak, meraih benda, hingga berusaha berdiri bukan hanya menunjukkan perkembangan motorik. Setiap aktivitas tersebut juga menjadi cara bayi belajar, mengeksplorasi, dan membangun rasa aman bersama orang tua.
Lantas, apa saja tahap perkembangan yang perlu dipahami dan bagaimana cara orang tua dapat mendukung proses tersebut? Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahap perkembangan bayi usia 0-12 bulan
Montessori & Parent Educator, Rossa Akhirunnisa, membagikan insight-nya terkait tahap perkembangan bayi usia 0-12 bulan yang perlu diketahui setiap orang tua. Berikut di antaranya:
1. Gross motor development
Pada usia ini, bayi mulai mengembangkan kemampuan mengontrol tubuh, menjaga keseimbangan, serta mengoordinasikan berbagai gerakan.
“Proses tersebut dapat terlihat ketika mereka melakukan tummy time, berguling, merangkak, menarik tubuh untuk berdiri, hingga mulai berjalan sambil berpegangan,” ujar Rossa, dalam acara KC Softex – “Sweety Siap Tandang Tanding”, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, berbagai gerakan tersebut merupakan bagian dari proses belajar bayi. “Kalau mereka bergerak, itu artinya berkenalan dengan dunia sekitarnya.”
2. Sensorimotor learning
Gerakan juga membantu bayi memahami lingkungan melalui pengalaman langsung. Ketika meraih, memegang, memindahkan, atau mendekati suatu benda, mereka sedang mengenali tubuh, ruang, jarak, tekstur, sekaligus memahami hubungan sebab-akibat.
“Kalau kita yang orang dewasa, harus lihat buku. Tapi kalau mereka dengan bergerak,” ungkapnya.
3. Emotional security dan attachment
Selain kemampuan fisik dan kognitif, bayi juga membutuhkan rasa aman selama mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
“Karena kemampuan regulasi bayi masih berkembang, sehingga kehadiran orang tua yang responsif sebagai secure basic, peka terhadap sinyal bayi, dan memberikan rasa aman sangat penting,” tutur Rossa.
Ketika bayi merasa aman, mereka dapat lebih leluasa mencoba berbagai hal sesuai dengan kemampuannya, Bunda.
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Setelah mengenali tahap perkembangan bayi usia 0-12, ada beberapa langkah yang dapat Bunda lakukan. Berikut di antaranya:
1. Create a safe place (menyediakan tempat yang aman)
Rossa mengatakan orang tua dapat menyiapkan ruang yang aman agar bayi memiliki kesempatan untuk bergerak.
“Pertama kita adalah safe place. (Contohnya) itu area bermainnya harus aman, cribnya ada penutup, jadi anak yang masih belajar untuk naik cribnya tetap aman, ada ngobrol dengan orang tua,” ujarnya.
Konsep ini sejalan dengan pendekatan Montessori yang mengenal istilah prepared environment, yaitu menata lingkungan gar mendukung kebutuhan anak.
“Kalau di Monterssori itu ada namanya prepare environment, jadi kita preparinglingkungannya. Instead of kita, jangan, jangan, jangan, itu anak kita lagi belajar eksplorasi,” tuturnya.
2. Respond to cues (merspons isyarat)
Tangisan juga merupakan salah satu cara utama bayi berkomunikasi. Karena belum mampu menyampaikan kebutuhan melalui kata-kata, orang tua perlu memperhatikan berbagai sinyal yang diberikan Si Kecil.
“Kedua itu 0-12 bulan pasti berkomunikasi dengan menangis. Jadi, bagaimana kita sebagai orang tua harus respons isyaratnya,” ujar Rossa.
Respons yang hangat, konsisten, dan sesuai kebutuhan dapat membantu bayi merasa dipahami serta aman. Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru memberi label ketika bayi menangis, seperti menyebutnya cengeng.
3. Allow self-directed movement (Izinkan gerakan yang dipandu oleh diri sendiri)
Bayi juga perlu diberi kesempatan untuk mencoba dan mengulangi gerakannya sendiri. Bunda tidak harus selalu terburu-buru membantu atau mengarahkannya.
“Berikan kesempatan bayi mencoba dan mengulangi gerakan sendiri, tanpa terburu-buru memposisikan atau mengarahkan setiap gerakannya,” ungkapnya.
Nah, itulah tahap perkembangan bayi usia 0-12 bulan dan cara orang tua mendukungnya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
