Rasa insecure bisa dialami oleh siapa saja. Namun, tidak sedikit orang yang menganggap perasaan tersebut sebagai bagian dari kepribadian yang tidak dapat diubah.
Faktanya, perasaan ini tidak muncul begitu saja. Insecure sering kali terbentuk dari pola pikir dan kebiasaan yang terus diulang dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu, mengenali kebiasaan yang diam-diam memperkuat rasa tidak percaya diri menjadi langkah awal untuk mengatasinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6 Kebiasaan orang yang insecure secara mental dan emosional
Dilansir Your Tango, orang yang merasa insecure secara mental dan emosional bergumul dengan kebiasaan-kebiasaan berikut ini:
1. Mengkritik diri sendiri
Sejak usia muda, sebagian besar orang mungkin belajar bahwa perlu bersikap keras pada diri sendiri jika ingin sukses. Biasanya, hal ini berbentuk ucapan negatif yang berlebihan.
Mengkritik diri sendiri bukanlah sumber motivasi, Bunda. Jadi, mengandalkan strategi motivasi bawaan berupa kritik diri, dapat membuat Bunda merasa insecure.
Jika benar-benar ingin mengatasi perasaan tidak aman, cobalah mulai dari menghilangkan kebiasaan mental berupa pikiran negatif tentang diri sendiri.
2. Bersikap terlalu kritis terhadap orang lain
Bersikap kritis terhadap orang lain adalah mekanisme pertahanan halus yang dirancang untuk meningkatkan ego sendiri.
Ketika merasa tidak aman, Bunda sangat membutuhkan perasaan positif tentang diri sendiri. Jadi, banyak orang yang tidak percaya diri terbiasa mengkritik orang lain sebagai cara untuk meningkatkan egonya sendiri.
Namun, masalahnya selain merusak hubungan adalah hanya akan membuat Bunda merasa lebih buruk tentang diri sendiri dalam jangka panjang.
Jika ingin meningkatkan harga diri, hentikan kebiasaan mengkritik orang lain dan temukan cara yang lebih sehat untuk merasa nyaman dengan diri sendiri.
3. Sering minta nasihat
Meminta nasihat adalah hal yang mudah dan sering kali memang demikian. Namun, ketika benar-benar buntu, telah mencoba segala cara yang Bunda pikirkan, dan masih tidak tahu bagaimana melanjutkan sesuatu, terkadang nasihat bisa sangat membantu.
Secara psikologis, kebiasaan meminta nasihat setiap kali merasa buntu atau gugup, dapat menjadikan Bunda ketergantungan untuk mengatasi masalah sendiri.
Salah satu cara untuk membangun kepercayaan diri adalah dengan menoleransi rasa takut dan kecemasan, dan tetap melakukan sesuatu. Mintalah nasihat hanya jika diperlukan, bukan hanya karena itu akan meredakan kecemasan Bunda.
4. Sering mencari kepastian
Sama seperti minta nasihat, mencari kepastian adalah kebiasaan halus yang melatih otak untuk melihat diri sendiri sebagai orang lemah dan tidak percaya diri dalam jangka panjang. Namun, tetap dilakukan.
Jika ingin merasa lebih baik, Bunda harus bersedia mentolerir keraguan diri sendiri daripada langsung mencari kepastian dari orang lain.
5. Ragu-ragu
Kebiasaan meragukan diri sendiri memang terasa menyenangkan saat itu juga, tetapi lama-kelamaan menyebabkan rasa tidak aman yang berlebihan.
Bunda dapat mengatasi masalah yang satu ini dengan berhenti meragukan keputusan secara terus-menerus.
6. Menganggap segala sesuatunya sebagai bencana
Overthinking tentang hal-hal buruk adalah kebiasaan yang sangat tidak bermanfaat karena membuat dunia tampak jauh lebih menakutkan dan suram daripada kenyataannya.
Ketika terus-menerus mengatakan pada diri sendiri bagaimana semuanya akan berakhir buruk, jangan heran jika otak mulai mengatakan semuanya memang buruk.
Untuk mulai mengurangi kebiasaan ini, hentikan berpikir negatif dan membayangkan hal buruk yang belum tentu terjadi. Merasa insecure berlebihan bukan kutukan genetik atau sifat kepribadian, ini bisa Bunda ubah secara perlahan.
Nah, itulah beberapa kebiasaan orang yang insecure secara mental dan emosional yang perlu segera diatasi. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
